KATA PENGANTAR
Puji syukur
Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang mana telah melimpahkan rahmat, hidayah
dan inayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun maksud dan
tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai pedoman bagi mahasiswa untuk
mengetahui lebih jelas tentang Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Pneumonia.
Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah tidak lepas dari berbagai kesulitan, namun berkat bimbingan
yang ada dapat kami atasi.
Terakhir kami ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam mengembangkan wawasan
bagi semua pembaca.
Kudus, Maret 2008
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pnueumonia merupakan suatu radang
paru yang disebabkan oleh bemacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur,
dan benda asing. Tubuh mempunyai daya tahan yang beguna untuk melindungi dari
bahaya infeksi melalui mekanisme daya tahan traktus respiratoris. Anak dengan
daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu
mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang memperngaruhi
timbulnya pneumonia ialah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat
Malnutrisi Energi Protein (MEP), penyakit menahun, trauma pada paru, anestesia,
aspirasi dan pengobatan dengan antibiotik yang tidak sempurna.
(Ngastiyah, 2005 : 57)
B.
TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1.
Agar mahasiswa mengetahui lebih
lanjut tentang penyakit pneumonia khususnya pada anak.
2.
Agar mahasiswa dapat memberikan
askep pada anak dengan penyakit pneumonia.
C.
METODE PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini, penulis
menggunakan studi pustaka, yaitu suatu metode dengan sistem pengambilan materi
dari berbagai literatur dan referensi yang berhubungan dengan pneumonia.
D.
SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini, penulis membagi dalam 3 bab
yaitu :
BAB I : Pendahuluan
meliputi : Latar Belakang, Tujuan Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Konsep
Dasar meliputi : Pengertian, Klasifikasi, Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi
Klinis, Pathway, Komplikasi, Penatalaksanaan, fokus Intervensi.
BAB III :
Penutup
DAFTAR PUSTAKA
BAB
II
KONSEP
DASAR
A.
PENGERTIAN
Pneumonia adalah suatu radang paru
yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan
benda asing.
(Ngastiyah, 2005 : 57)
Pneumonia adalah infeksi saluran
pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru.
(Mansjoer, 2000 : 465)
Pneumonia adalah peradangan yang
mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup
bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan kondisi jaringan paru
dan gangguan pertukaran gas setempat.
(Waspadji, 2001 : 801)
KLASIFIKASI
Pneumonia dibagi atas dasar anatomis dan etiologis.
-
Berdasarkan anatomis
1.
Pneumonia lobaris
2.
Pneumonia lobularis
(Bronkopneumonia)
3.
Pneumonia intersitialis
(Bronkiolitis)
-
Berdasarkan etiologis
1.
Bakteri : Diploccocus Pneumoniae,
Pneumoccocus, Streptococcus Hemolyticus, Streptococcus Aurens, Hemophilus
Influenzae, Bacillus Friedlander, Mycobacterium Tuberculosis.
2.
Virus : Respiratory Syncitial
Virus, Virus Influenza, Adenivirus, Virus Sitomegalik.
3.
Mycoplasma pneumonia.
4.
Jamur : Hitoplasma capsulatum,
cryptococcus neoformans, blastomyces dermatitides, coccidioides immitis,
aspergillus species, candida albians.
5.
Aspirasi : Makanan, kerosen (bensin,
minyak tanah), cairan amnion, benda asing.
6.
Pneumonia hipostatik.
7.
Sindrom loeffler.
(Hasan dan Alatas, 1985 :
1229)
B.
ETIOLOGI
1.
Bakteri
Ex : Berbagai kokus, hemophillus influenzae.
2.
Virus
3.
Mycoplasma pneumoniae
4.
Jamur
5.
Aspirasi (makanan, kerosen,
amnion dsb)
(Ngastiyah, 2005 : 57)
C.
PATOFISIOLOGI
Bakteri penyebab terisap perifer
melalui saluran nafas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema, yang
mempermudah poliferasi dan penyebaran kuman. Bagian paru yang terkena mengalami
konsolidasi, yaitu terjadinya serbukan sel PMN (polimorfonuklear), febrin,
eritrosit, cairan edema dan kuman di alveoli dan proses fagositosis yang cepat.
Dilanjutkan stadium resolusi, dengan peningkatan jumlah sel makrofag di alveoli,
degenerasi sel dan menipisnya fibrin, serta menghilangnya kuman dan debris.
Proses kerusakan yang terjadi dapat
dibatasi dengan pemberian antibiotik sedini mungkin agar sistem bronkopulmonal
yang tidak terkena dapat diselamatkan.
(Mansjoer, 2000 : 466)
D.
MANIFESTASI KLINIS
1.
Manifestasi non spesifik dan
toksitas berupa demam, sakit kepala, iritabel, gelisah, malaise, nafsu makan
kurang, keluhan gastrointestinal.
2.
Gejala umum saluran pernapasan
bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, nafas cuping hidung, sesak
nafas, air hunger, merintih dan sianosis.
3.
Retraksi (penarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi
nafas) perkusi pekak, fermitus melemah, saluran nafas melemah, dan ronki.
4.
Tanda efusi pleura atau empiema
berupa gerak ekskrusi dada tertinggal di daerah efusi, perkusi pekak, fremitus
melemah, suara nafas tubeler tepat di atas batas cairan, friction rub, nyeri
dada, kaku kuduk/meningimus.
5.
Tanda infeksi ekstrapulmonal.
(Mansjoer, 2000 : 466)
E.
PATHWAY

F.
KOMPLIKASI
-
Efusi pleura dan empiema.
Terjadi pada sekitar 45% kasus, terutama pada infeksi
bakterial akut berupa efusi parapneumonik gram negatif sebesar 60%,
staphyloccocus aurens 50%, S. Pneumoniae 40-60%, kuman an aerob 35%. Sedangkan
pada mycoplasma pneumoniae sebesar 20%. Cairannya transudat dan steril,
terkadang pada infeksi bakterial terjadi empiema dengan cairan eksudat.
-
Komplikasi sistemik.
Dapat terjadi akibat invasi kumabn atau bakteriamia
beurpa meningitis. Dapat juga terjadi dehidrasi dan hiponatremia, anemia pada
infeksi kronik, peninggian ureum dan enzim hati. Adang-kadang terjadi
peninggian fosfatase alkali dan bilirubin akibat adanya kolestatis
intrahepatik.
-
Hopoksemia akibat gangguan
disfusi.
-
Pneumonia kronik yang dapat
terjadi bila pneumonia pada masa anak-anak tetapi dapat juga oleh infeksi
berulang dilokasi bronkus distal pada cystic fibrosis atau
hipogamaglobulinemia. Tuberkulosis atau pneumonia nekrotikans.
G.
PENATALAKSANAAN
-
Oksigen 1-2 l/menit
-
IVFD dekstrose 10% : NaCl 0.9%
= 3 : 1 KCL 10 Meg ml ciaran. Jumlah cairan sesuai dengan berat badan, kenaikan
suhu dan status hidrasi.
-
Jika sesak tidak terlalu hebat
dapat dimulai makanan anteral bertahap melalui selang nasobastrik dengan
feeding drip.
-
Jika sekresi lendir berlebihan
dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta abonis untuk memperbaiki
transpor mukosilier.
-
Koreksi gangguan keseimbangan
asam basa dan elektrolit
-
Anti biotik sesuai hasil biakan
atau berikan :
Untuk kasus penumonia community base :
Ø Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.
Ø Kloram teknikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.
Untuk kasus pneumonia hospital base :
Ø Sefotaksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.
Ø Amikusin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.
H.
FOKUS INTERVENSI
1.
Bersihan jalan nafas tidak
efektif b.d peningkatan produksi sputum.
Tujuan : Pasien
menunjukkan perilaku mencapai bersihan jalan nafas.
KH : Pasien
menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tidak ada dispneu.
Intervensi :
a.
Kaji frekuensi/kedalaman
pernafasan dan gerakan dada.
b.
Bantu pasien latihan nafas
sering.
c.
Berikan cairan sedikitnya 2500
ml/hari (kecuali kontra indikasi) tawarkan air hangat daripada dingin.
d.
Libatkan keluarga dalam
perawatan.
e.
Pengihisapan sesuai indikasi.
f.
Kolaborasi.
2.
Gangguan pertukaran gas b.d
hipoventilasi
Tujuan : Pasien
menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam
rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan.
KH : Pasien
berpatisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
Intervensi :
a.
Kaji frekuensi/kedalaman dan
kemudahan bernafas.
b.
Kaji status mental.
c.
Awasi frekuensi jantung/irama.
d.
Pertahankan istirahat tidur,
dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas senggang.
e.
Tinggikan kepala dan dorong
sering mengubah posisi nafas dalam, dan batuk efektif.
3.
Resiko tinggi terhadap
penyebaran infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan utama.
Tujuan : Pasien
mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
KH : Pasien
mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.
Intervensi :
a.
Pantau tanda vital dengan ketat
b.
Anjurkan pasien memperhatikan
pengeluaran sekret.
c.
Tunjukkan/dorong teknik mencuci
tangan yang baik.
d.
Ubah posisi dengan sering dan
berikan pembuangan paru yang baik.
e.
Batasi pengunjung sesuai
indikasi.
4.
Resiko tinggi pemenuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan b.d anoreksia.
Tujuan : Pasien
menunjukkan peningkatan nafsu makan.
KH : Pasien
mempertahankan/meningkaktan berat badan.
Intervensi :
a.
Identifikasi faktor yang
menimbulkan mual/muntah.
b.
Berikan wadah tertutup untuk
sputum dan buang sesering mungkin.
c.
Jadwalkan pengobatan pernafasan
sedikitnya 1 jam sebelum makan.
d.
Asukultasi bunyi usus.
e.
Berikan makan porsi kecil dan
sering.
f.
Evaluasi status nutrisi umum,
ukur berat badan dasar.
5.
Resiko tinggi kekurangan volume
cairan b.d demam
Tujuan : Kebutuhan
cairan pasien terpenuhi.
KH : Membran
mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.
Intervensi :
a.
Kaji perubahan tanda vital.
b.
Kaji turgor kulit.
c.
Pantau masukan dan keluaran
cairan.
d.
Kolaborasi medis.
(Doenges, 2000 : 166-173)
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pneumonia adalah suatu peradangan
yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup
bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan
paru dan gangguan pertukaran gas setempat yang disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda dasing.
B.
SARAN
a.
Aspek penyakit pneumonia harus
dipahami untuk dapat mengatasi dengan baik.
b.
Tindakan pencegahan harus
diambil untuk mengurangi angka morbilitas penyakit.
c.
Faktor resiko penyebab
pneumonia harus dikurangi/dihindari.