Selasa, 31 Januari 2012

ASKEP GASTRO ENTRITIS (GE)

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN
GASTRO ENTRITIS (GE)












                                                   Disusun Oleh :
Nama                   : Media Dani A.
NIM                     : 2010.0973

 




 




TINJAUAN TEORI

A.    PENGERTIAN
Gastroenteritis (GE) adalah infeksi saluran pencernaan oleh berbagai enteropatogen, termasuk bakteria, virus dan parasit. (Nelson, 2000).
Diare akut (Gastroenteritis) adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri virus dan patogen parasitik. (Donna L. Wong, 2004 : 492)
Diare ialah frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak; konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja. (Ngastiyah, 2005 : 224)
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. (Suriadi, 2001 : 83)
Kesimpulan dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gastroenteritis (GE) atau diare akut adalah infeksi saluran pencernaan pada lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus, dan parasit yang ditandai dengan keadaan buang air besar secara berlebihan dan dapat bercampur lendir dan darah atau lendir saja.
B.     ETIOLOGI
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
a.       Faktor Infeksi
1)      Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak.
Infeksi enteral ini meliputi :
a)      Infeksi bakteri : Vibrio, E. Coli, salmonella, shigella, compylobacter yersinia, aeromonas, dan sebagainya.
b)      Infeksi virus : Eterovirus (Virus echo, coxsaekie, poliomyelitis), Adenovirus, rotavirus, astrovirus dan lain-lain.
c)      Infeksi parasit : Cacing (ascaris, thrichiuris, oxyuris, strongyloides protozoa (entamoeba hystolytica, giardia lamblia, trichomonas hominis), jamur (candida albicans).
2)      Infeksi parenteral  yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
b.      Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat : Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
1)      Malabsorbsi lemak
2)      Malabsorbsi protein
c.       Faktor makanan : Makanan basi, beracun, elergi terhadap makanan.
d.      Faktor psikologis : Rasa takut dan cemas walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar. (Dr. Rusepno Hassan, 2005 : 283-284)
C.    TANDA DAN GEJALA
Mula-mula pasien cengeng, gelisah suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defeksi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan gangguan keseimbangan asam basa, dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi) selaput lendir dan bibir, bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang dan berat. Bila berdasarkan tonisitas plasma dibagi menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik dan hipertonik. (Ngastiyah, 2005 : 226)
D.    PATOGENESIS
Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan faktor diantaranya pertama faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk ke dalam saluran perncernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan menyebabkan sistem transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat. Kedua, faktor malabsorbsi merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadilah diare. Ketiga, faktor makanan ini dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik. Sehingga terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makan yang kemudian menyebabkan diare. Keempat, faktor psikologis dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006).




E.     KOMPLIKASI
Komplikasi kehilangan akibat diare :
a.       Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)
b.      Renjatan hipovolemik
c.       Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan elektrokardiogram)
d.      Hipoglikemia
e.       Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dab defisiensi enzim laktosa
f.       Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik
g.      Malnutrisi energi protein (Akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik. (Ngastiyah, 2005).
F.     PENATALAKSANAAN MEDIS
Dasar pengobatan diare adalah :
a.       Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
b.      Dietetik (cara pemberian makanan)
c.       Obat-obatan
Cara memberikan cairan dalam terapi dehidrasi
a.       Belum ada dehidrasi
Peroral sebanyak anak mau minum atau (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi


b.      Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25-50 ml/kg BB peroral (intragastrik)
Selanjutnya : 125 ml/kg BB/hari ad libitum
c.       Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50-100/kg BB per oral/intragastrik (sonde)
Selanjutnya : 125 ml/kg BB/hari ad libitum
d.      Dehidrasi berat
Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun berat badan 3-10 kg
1 jam pertama :
40 ml/kg BB/jam : 10 tetes/kg BB/menit (set infus berukuran 1ml : 15 tts) atau 13 tetes/kg BB/menit (set infus 1ml : 20 tetes)
7 jam berikutnya :
12ml/kg BB/jam : 3 tetes/kg BB/menit (set infus 1ml : 15 tetes) atau 4 tetes/kg BB/mnt (set infus 1ml : 20 tts)
16 jam berikutnya :
125 ml/kg BB oralit per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa intravena 2 tetes/kg BB/menit (set infus 1ml: 15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1 ml : 15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml : 20 tetes).
Untuk anak lebih 5-10 tahun dengan BB 15-25 kg
1 jam pertama :
20 ml/kg BB/jam atau 5 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 7 tetes/kg BB/mnt (1ml : 20 tetes)
7 jam berikut :
10 ml/lg BB/jam atau 2 ½ tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml : 20 tetes)
16 jam :
105 ml/kg BB oralit peroral atau bila anak tidak mau minum dapat diberikan DG aa intravena 1 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 1 ½ tetes/kg BB/menit (set 1 ml : 20 tetes)
Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2 kg.
Kebutuhan cairan :
125 ml + 100ml + 25ml = 250 ml/kg BB/24 jam
Jenis cairan :
Cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5%+1 bagian NaHCO3 1 ½%)
Kecepatan :
4 jam pertama : 25ml/kg BB/jam atau 6 tetes/kg BB/menit (1ml: 15 tetes) 8 tetes/kg BB/mnt (1ml : 20 tetes)
20 jam berikutnya : 150 ml/kg BB/20 jam atau 2 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 2 ½ tetes/kg BB/menit (1ml : 20 tetes).
Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2 kg
Kebutuhan cairan
250 ml/kg BB/24 jam
Jenis cairan :
Cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 ½)
Kecepatan cairan :
Sama dengan pada bayi baru lahir.
Cairan untuk pasien MEP sedang dan berat dengan diare dehidrasi berat misalnya : Untuk anak umur 1 bulan - 2 tahun dengan berat badan 3-10 kg.
Jenis cairan : DG aa
Jumlah cairan : 250 ml/kg BB/24 jam
Kecepatan : 4 jam pertama : 60ml/kg BB/jam atau 15 ml/kg BB/jam atau = 4 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 5 tetes/kg BB/menit (1ml : 20 tetes).
20 jam berikutnya : 190ml/kg BB/jam atau 10 ml/kg BB/jam atau     2 ½ tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml: 20 tetes). (Ngastiyah, 1999)

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.       Pemeriksaan Tinja
1)      Makroskopis dan mikroskopis
2)      PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat intoleransi gula.
3)      Bila perlu lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
b.      Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan PH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut Astrup (bila memungkinkan).
c.       Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
d.      Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita yang disertai kejang).
e.       Pemeriksaan intubasi secara kualitas dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik. (Dr. Rusepto Hassan, 2005 : 286).

H.    FOKUS PENGKAJIAN

1.      Kaji riwayat diare
2.      Kaji status hidrasi, ubun-ubun, turgor kulit, mata, membran mukosa mulut
3.      Kaji tinja, jumlah, warna, bau, konsistensi dan waktu buang air besar
4.      Kaji intake dan output (pemasukan dan pengeluaran)
5.      Kaji berat badan
6.      Kaji tingkat aktivitas anak
7.      Kaji tanda-tanda vital (Suriadi, 2001 : 87).



Menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 :
a.       Identitas klien
b.      Riwayat keperawatan
1)      Awal serangan : adanya anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, anoreksia kemudian timbul diare.
2)      Keluhan utama : feses semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekuensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
c.       Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
d.      Riwayat psikososial keluarga
e.       Kebutuhan dasar
1)      Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
2)      Pola Nutrisi : diawali dengan muntah, mual, anoreksia, menyebutkan penurunan berat pada pasien.
3)      Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
4)      Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
5)      Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.
f.       Pemeriksaan fisik
1)      Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernafasan agak cepat.
2)      Pemeriksaan sistematik :
a)      Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
b)      Perkusi : adanya distensi abdomen
c)      Palpasi : turgor kulit kurang elastis
d)     Auskultasi : terdengarnya bising usus
e)      Pemeriksaan tumbuh kembang
f)       Pemeriksaan penunjang

I.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.       Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebih.
b.      Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
c.       Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
d.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
e.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis, dan pengobatan.
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan. (http://askep.blogspot.com/2008/03/askep-klien-dengan-ge.html)

J.      FOKUS INTERVENSI
Diagnosa I       : Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebih.
Tujuan             : -     Mempertahankan volume cairan adekuat
-          Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria Hasil   : -     Membran mukosa lembab
-          Turgor kulit baik
-          Masukan dan haluaran seimbang
Intervensi        :
a.       Observasi tanda-tanda vital
Rasional    :  Hipotensi, takikardia, demam dapat menunjukkan respons terhadap dan/atau efek kehilangan cairan.
b.      Observasi tanda-tanda dehidrasi
Rasional    : Populasi feses yang cepat melalui usus mengurangi absorbsi air volume sirkulasi yang rendah menyebabkan kekeringan membran mukosa dan rasa haus. Urine yang pekat telah meningkatkan berat jenis.
c.       Pantau masukan dan haluaran
Rasional    : Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan.
d.      Berikan dan anjurkan keluarga untuk sering memberikan minum yang banyak.
Rasional    : Minuman berkarbonat menggantikan natrium dan kalium yang hilang pada diare dan muntah.
e.       Kolaborasi
-          Berikan cairan parenteral, tranfusi darah sesuai indikasi.
Rasional    :  Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan/anemia.
-          Awasi hasil laboratorium, contoh : elektrolit (khususnya kalium, magnesium dan GDA)
Rasional    : Menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi.
-          Berikan obat sesuai indikasi :
·         Anti diare
Rasional    : Menurunkan kehilangan cairan dari usus.
·         Anti Mimetik, misal : Trimetobenzamida (tigan), hidoksin (vistar).
Rasional    : Digunakan untuk mengontrol mual/muntah pada eksaservasi akut.
Antipiretik, misal : Asetaminofen
Rasional    : Mengontrol demam, menurunkan kehilangan tak terlihat.
Diagnosa II     : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan             : Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi
Kriteria Hasil   : -     Intake nutrisi klien meningkat
-          Diet habis 1 porsi yang disediakan
-          Tidak ada mual, muntah
Intervensi        :
a.       Kaji pola nutrisi
Rasional    : Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.
b.      Timbang berat badan klien
Rasional    : Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.
c.       Berikan diet dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional    : Memenuhi kebutuhan nutrisi
d.      Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen, flatus (misal, produk susu)
Rasional    : Mencegah serangan akut/eksaserbasi.
e.       Kolaborasi
-          Pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi
Rasional    : Mengistirahatkan kerja gastrountestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut.
-          Berikan obat sesuai indikasi
Rasional    : Antikolinergik diberikan 15-30 menit sebelum makan memberikan penghilangan kram dan diare, menurunkan motilitas gaster.

Diagnosa III    : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekuensi BAB yang berlebihan.
Tujuan             : Gangguan integritas kulit teratasi.
Kriteria Hasil   : -     Integritas kulit kembali normal
-          Tidak ada iritasi
-          Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi        :
a.       Kaji kerusakan kulit/iritasi setiap buang air besar
Rasional    : Mengetahui seberapa jauh kerusakannya
b.      Gunakan kapas lembab dan sabun bayi (Ph normal) untuk membersihkan anus setiap buang air besar
Rasional    : Mencegah terjadinya iritasi lebih lanjut
c.       Hindari dari pakaian dan pengalas tempat tidur yang lembab
Rasional    :  Suhu yang lembab mempercepat terjadinya iritasi
d.      Ganti popok atau kain bila lembab atau basah
Rasional    : Suhu yang lembab mempercepat terjadinya iritasi
e.       Gunakan obat kream bila perlu untuk perawatan perineal
Rasional    : Obat kream dapat membantu menghambat terjadinya iritasi.

Diagnosa IV    : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Tujuan             : Nyeri dapat berkurang/hilang
Kriteria Hasil   :  Ekspresi wajah tenang
Intervensi        :
a.       Kaji keluhan nyeri (skala 1-0) perubahan karakteristik nyeri.
Rasional    : Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya.
b.      Atur posisi yang nyaman bagi pasien.
Rasional    : Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri.
c.       Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen.
Rasional    : Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian pasien dan peningkatan kemampuan koping.
d.      Bersihkan anorektal dengan sabun ringan dan air setelah defekasi dan berikan perawatan kulit.
Rasional    : Melindungi kulit dari keasaman feces, mencegah iritasi.
e.       Kolaborasi pemberian obat analgetik dan antikolinergik sesuai indikasi.
Rasional    : Analgetik sebagai agent anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus gastrointestinal dapat diberikan sesuai indikasi klinis.

Diagnosa V     : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit prognosis dan pengobatan.
Tujuan             : Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria Hasil   : -     Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien
-          Ekspresi wajah tenang
-          Keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang penyakit klien
Intervensi        :
a.       Tentukan persepsi klien tentang proses penyakit
Rasional    : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu.
f.       Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit
Rasional    : Memberikan informasi tentang pengetahuan keluarga
g.      Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui pankes
Rasional    : Memberikan informasi kepada keluarga tentang penyakitnya
h.      Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya
Rasional    : Meningkatkan pemahaman dan dapatkerjasama dalam program
i.        Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien
Rasional    : Meningkatkan pemahaman dan dapat kerjasama dalam program

Diagnosa VI    : Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang menakutkan.
Tujuan             : Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan
Kriteria Hasil   : Ekspresi wajah tenang
Intervensi        :
a.       Catat petunjuk perilaku, misal : gelisah, peka rangsang, menolak
Rasional    : Indikator derajat ansietas/stress
b.      Dorong menyatakan perasaan, berikan umpan balik
Rasional    : Membuat hubungan terapeutik
c.       Berikan lingkungan tenang dan istirahat
Rasional    : Memindahkan pasien dari stress luar meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan ansietas
d.      Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi.
Sedatif, misal : barbiturat, agen antiansietas, misal : diazepam (valium)
Rasional          : Dapat digunakan untuk menurunkan ansietas dan memudahkan istirahat.
(Marilynn E. Doenges, 2001)
(Lynda Juall Carpenito, 1999)
(http://askep.blogspot.com/2008/03/askep-klien-dengan-ge.html)



DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan Edisi 2. EGC : Jakarta.

Doenges Marilynn. E, 2001. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.

Hassan, Rusepno. 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Penerbit Salemba Medika.

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak.. Volume 1. Edisi 15, Alih Bahasa A. Samik Wahab. EGC : Jakarta.

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Editor : Setiawan EGC : Jakarta.

Surradi. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi 1. PT Fajar Interpratama, Jakarta.

Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Alih Bahasa Monica Ester, Edisi Bahasa Indonesia. EGC : Jakarta.

http://blogspot.com/ 2008/03/askep_pada_klien_dengan_ge.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar